Showing posts with label Human Resources. Show all posts
Showing posts with label Human Resources. Show all posts

Thursday, December 23, 2010

Manajemen Orang Lain dan Diri Sendiri

Suatu survei yang menanyakan faktor apa sajakah yang sering dikeluhkan seorang karyawan tentang atasannya menemukan 9 hal utama, yaitu: (1) sikap/tindakan yang seperti hakim, (2) sombong, (3) tidak dapat menunjukkan/memberikan penghargaan kepada karyawan, (4) tidak dapat atau tidak mau melihat/mendengar pandangan dari sudut yang lain, (5) tidak mempunyai jiwa kepemimpinan, (6) tidak terbuka dan tidak jujur, (7) tidak mampu mendelegasikan tanggung-jawabnya, (8) tidak dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tepat dan (9) bias, membiarkan emosi mempengaruhi keputusan-keputusannya.

Salah satu cara untuk menghindari hal-hal di atas adalah mulai mengatur (me-"manage") orang lain dan diri sendiri agar dapat bertindak secara asertif/tegas. Delapan tahapannya adalah sbb.:

1. Membangun kepercayaan diri
Percaya pada kemampuan diri sendiri. Mencintai diri sendiri dengan segala kekurangannya. Mampu menghargai keberhasilannya sehingga mampu pula menghargai keberhasilan orang lain.

2. Mampu mendengar secara aktif
Memberikan kesempatan orang lain berbicara tanpa harus dinilai dan mengarahkannya agar dapat mengatasi masalahnya sendiri sehingga memumuk kepercayaan diri orang lain

3. Berani mengambil resiko
Berani menyatakan pendapat, berani minta apa haknya, dapat mengekspresikan kemauannya, dan tahu seberapa jauh ia berani mengambil resiko tersebut

4. Dapat/berani mengatakan ‘tidak’
Berani menolak pekerjaan dari atasan/teman yang bukan tanggung-jawabnya atau pekerjaan yang tidak mungkin dilakukannya

5. Tahu cara memberikan kritik yang positif
Berikan kritik bersama cara memperbaiki kesalahan tsb.

6. Tahu cara menghadapi kritik
Ingat bahwa kesalahan anda tidak samadengan diri anda.

7. Tahu cara memberi sanjungan/pujian
Mendasarkan pujiannya pada pencapain tujuan, sesuai

8. Tahu apa yang ia inginkan sendiri
Bersikap fleksibel dan mau menyesuaikan diri dengan kepribadian karyawannya dan pada waktu yang tepat

Monday, December 20, 2010

Check Your Self-Control Ability

EACH person needs the freedom to be creative and self actualization. On the other hand, control of the self-regulation is necessary as the instigation and capabilities, whether physical, psychological, and behavioral.

Acting without thinking is a characteristic inherent in children. They acted spontaneously. When sick they will cry anywhere, anytime, and in any situation. When happy, healthy child will run, scribbling, shouting excitedly, or do whatever he wants.

Imagine if this kind of behavior by adolescents or adults. Of course, quite strange. We would feel very disturbed when finding someone who is no longer the children act as they pleased, let impulses or desires that are selfish manifest granted.


The more a person gets older, he expected more and have control over their own behavior. In other words, the more developed the ability to control themselves.
Full / self control (self-control) is the influence or regulation or a person against the physical, behavioral, and psychological processes (Calhoun & Acocella, 1990). It is very important in a person's life. Why?

First, self-control plays a role in one's relationships with others. This is not out of the fact that we do not live alone, but in groups, in the community. In fact, we have personal needs such as food, drink, warmth, and so forth. To meet these needs we need to control yourself in such a way, so as not to disturb others.

Second, self-control plays a role in the achievement of personal goals. Every person, from any culture, always expect to achieve certain goals in life. For example, in order to have a certain competence, achieve personal maturity, and so forth, in accordance with the standards that exist in society.

In order to achieve these objectives we need to learn and try over and over, and control themselves by delaying the gratification of the needs of a moment in order to achieve long-term goals.

By developing the ability to control himself as well as possible, we will become an effective person, so that it can consistently feel happy, free from guilt, to live more constructively, to accept yourself, and also accepted by the community.

Internal and External Control
Increasing age, a person is expected to increasingly develop the ability to control his behavior. Where source control one's behavior? Its source can be divided into two: factors inside and outside one's self.

Control behavior that comes from within themselves are usually referred to as an internal control, and that comes from outside ourselves is called external control. In self-control (internal), individuals regulate their own behavior and performance standards; give reward for himself if successfully achieve the objectives, and to punish himself when not managed to reach the goal.

On the other hand, the external controls, the individual placing another person as a determinant (the cause) of behavior, performance standards, and the rewards gained.
Of the two types of behavior control, personal control (internal) were considered more valuable. Throughout we rely on external control, our lives are largely determined by anyone else. Instead, by developing self-control (internal) means we control two things: ourselves and the world around us.

Self Control Problem
As explained above, self-control a well-developed will provide many benefits to a person. However, in reality, not all self-control we are able to perform consistently.

Our self-control ability varies. There are people who are often too much to drink (until drunk), others too much to eat, others are more easily lose control of emotions, tends to delay the job, and so forth. How can this be happening?

Just as a strong self-control, self-control are weak also develop through the learning process. For example, a teenager who still impulsive, which is always angry when his wish was fulfilled, the possibility of becoming so because since childhood, her parents always comply with all requests (to function as a reward) every time the child was whining to ask anything, even more so when her son was getting angry.

When this kind of reward pattern occurs repeatedly, it means that the child undergo a process of learning that his request would be fulfilled when accompanied by anger. Subsequently he developed a pattern of angry behavior each time his request has not been met.

Someone who has a habit of delaying the work, may become so because from childhood accustomed to working under pressure parents (functioning as a punishment). In such a situation he is motivated to do the task just to avoid punishment. Consequently, in a situation without any pressure, he tends to get lazy.

CIRI-CIRI ORANG SUKSES

Ciri-ciri Orang Sukses - Orang sukses adalah orang yang terus mencoba, meskipun telah mengalami banyak kegagalan. Ia memandang kehidupan sebagai peluang untuk mencapai kesuksesan. Itulah kira-kira kesimpulan dari penelitian selama 40 tahun terhadap orang-orang sukses. Yang dicoba ditemukan dari mereka adalah bagaimana dan mengapa mereka tergerak untuk menjadi teratas dibidang masing-masing, dari olah raga, pendidikan, hingga pasar modal. Apa sebenarnya yang mereka ketahui dan lakukan untuk menjadi sukses? Berikut ada tujuh hal yang dilakukan mereka dalam meraih sukses:

1. Orang sukses mau mengambil risiko. Mereka berupaya untuk mencapai target, melakukan penghematan, membangun relasi dengan banyak orang, dan gesit mencoba sesuatu yang baru guna mengikuti perkembangan zaman. David C. McClelland, seorang guru besar yang mendalami perjalanan orang-orang sukses serta telah melakukan perjalanan ke banyak negara dan melatih pengusaha kecil ,menyatakan cara menjadi pengusaha kecil sukses adalah dengan menjadi pengambil risiko moderat; yang mau terus mengambil risiko untuk meraih sukses.


2. Orang sukses percaya diri dan merasakan bahwa mereka berbuat sesuatu untuk dunia. Mereka memandang sebuah dunia yang besar dan ingin memainkan peranan penting di dalamnya. Mereka tetap bekerja sesuai keterampilan mereka, sambil tetap menyadari bahwa keterampilan inti memberi nilai kepada keterampilan lainnya. Mereka juga sadar, karya terbaik akan menghasilkan kompensasi bagi mereka.

3. Orang sukses menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Mereka mampu melihat pekerjaan sebagai kesenangan; mereka memilih bekerja di mana mereka dapat unggul. Orang sukses menyukai tantangan; mereka menikmati pencapaian puncak permainan mereka, apakah dipekerjaan, lapangan tenis atau lapangan golf.

4. Orang sukses adalah pelajar seumur hidup. Mereka menyadari,pendidikan tak pernah berakhir tapi dimulai disetiap tingkatan kehidupan dan terus berlanjut hingga akhir kehidupan. Pendidikan tidak terbatas di ruang kelas; artinya mencoba ide baru,membaca buku, surat kabar, majalah, dan menggunakan Internet merupakan bentuk pendidikan pula. Karena itu, tetaplah mengalir sesuai perubahan ketertarikan dan kemampuan Anda, dan nikmati perubahan. Ini akan membantu Anda tumbuh dan merasakan lebih percaya diri.

5. Orang sukses berpandangan positif terhadap apa yang dapat mereka kerjakan, dan ini meluas pada hal-hal lain. Mereka percaya gelas itu setengah penuh dan bukan setengah kosong. Mereka menanamkan semangat pada diri sendiri dan dapat membayangkan diri bagaimana mereka berhasil menyelesaikan suatu tugas sulit atau mencapai penghargaan tertinggi. Orang sukses berbuat bagaikan pelatih bagi orang lain, dengan menyuguhkan pesan-pesan positif dalam kehidupan sehari-hari. Mereka senang melihat orang lain membua tonggak sejarah dalam kehidupan mereka.

6. Orang sukses punya banyak cara untuk memotivasi diri sendiri sehingga dapat terus berkarya lebih baik dari yang lain. Ada yang dengan cara melakukan beberapa pekerjaan setiap hari pada bidang berbeda. Seorang pria setengah baya memotivasi dirinya sendiri dengan mencoba mendapatkan lebih banyak uang dari pada kakaknya. Seorang wanita berusia 29 tahun menjadi perawat top untuk menunjukkan kepada bekas gurunya bahwa dia memiliki keterampilan dan kecerdasan memadai untuk mencapai profesi itu.

7. Orang sukses menyelesaikan tugas tidak dengan setengah-setengah, dan mereka menggunakan cara kreatif dalam meraih sukses. Meski mungkin membutuhkan waktu lebih lama, mereka akhirnya melampaui garis finis. Mereka manfaatkan waktu dengan baik dalam mensinergikan kemampuan fisik dan mental untuk mencapai sukses.
Rasanya, Anda bisa juga mencoba. Siapa tahu Anda pun mampu mengikuti jejak mereka.

Saturday, December 18, 2010

CHARACTERISTICS OF SUCCESSFUL PEOPLE

Characteristics of Successful People - Successful people are those who continue to try, although it has experienced many failures. He looked at life as an opportunity to achieve success. That's roughly the conclusion of the study during 40 years of successful people. Who tried found from them is how and why they moved to the top of each field, from sports, education, until the capital markets. What exactly did they know and do to be successful? Here are seven things that carried them to success:
1. Successful people are willing to take risks. They strive to achieve the target, make savings, build relationships with people, and agile to try something new to keep up with the times. David C. McClelland, a professor who studied successful people travel and have traveled to many countries and train small businesses, stating how to become successful small entrepreneurs is to be moderate risk takers, who want to continue to take risks to achieve success.
2. Successful people are confident and feel that they are doing something for the world. They see a big world and want to play an important role in it. They still work according to their skills, while remaining aware that the core skills to give value to other skills. They are also aware, the best work will result in compensation for them.
3. Successful people enjoy what they are doing. They were able to see work as fun, they choose to work where they can excel. Successful people love a challenge: they enjoy the achievement of the peak of their game, whether at work, tennis court or golf course.
4. Successful people are lifelong learners. They realized that education never ends but it starts every level of life and continue until the end of life. Education is not limited in the classroom, it means trying new ideas, reading books, newspapers, magazines, and use the Internet is a form of education. Therefore, it is still running according to changes in interest and abilities, and enjoy the change. This will help you grow and feel more confident.
5. Successful people are positive outlook on what they can do, and this extends to other things. They believe the glass is half full rather than half empty. They instill a spirit in themselves and to imagine themselves how they managed to accomplish a difficult task or reach the highest award. Successful people do like a coach for others, by presenting positive messages in everyday life. They were happy to see others going to the milestone in their lives.
6. Successful people have a lot of ways to motivate yourself in order to continue to work better than others. There is a way to do some work each day on different areas. A middle-aged man motivate himself by trying to get more money from her sister. A 29-year-old woman to nurse the top to show the former teacher that he has adequate skills and intelligence to reach the profession.
7. Successful people do not get the job done with half measures, and they use creative ways to achieve success. Although it may take more time, they eventually go beyond the finish line. They use the time well in the synergy of physical and mental abilities to achieve success.
It's like, you can also try. Who knew you were able to follow their footsteps.

Cara Berpikir Orang Sukses

Orang sukses dan orang belum sukses dibedakan dari cara berpikirnya. Cara berpikir atau mindset ini bisa dipelajari, bisa dimiliki oleh siapa saja yang mau sukses. Ini sekedar sharing dari saya yang juga saya dapatkan dari teman saya. Jadi silahkan dibaca-baca cara pemikiran orang sukses ini, jangan langsung diterima mentah-mentah apalagi masak. Yang pasti hati-hati dengan pikiran, karena ini bisa jadi pelayan yang baik atau majikan yang buruk…

Berikut cara berpikir orang sukses :
Ungkapan ini berusaha menjelaskan bahwa perbedaan utama antara orang sukses dan orang gagal ada pada cara berpikirnya. Mereka yang sukses adalah mereka yang selalu menggunakan kekuatan berpikir untuk terus memperbaiki hidupnya sehingga lebih baik.

Orang-orang yang sukses ini adalah mereka yang memiliki tipe berpikir positif. Tipe berpikir orang-orang sukses ini adalah:

1. Big picture thinking bukan small thinking
Cara berpikir ini menjadikan mereka terus belajar, banyak mendengar dan terfokus sehingga cakrawala mereka menjadi luas.

2. Focused thinking bukan scattered thinking
Sehingga dapat menghemat waktu dan energi, loncatan-loncatan besar dapat mereka raih.

3. Creative thinking bukan restrictive thinking
Proses berpikir kreatif ini meliputi: think-collect- create-correct- connect.

4. Realistic thinking bukan fantasy thinking
Memungkinkan mereka meminimalkan risiko, ada target & plan, security, sebagai Katalis dan memiliki Kredibilitas.

5. Strategic thinking bukan random thinking
Sehingga simplifies, customize, antisipatif, reduce error and influence other dapat dilakukan.

6. Possibility thinking bukan limited thinking
Mereka dapat berpikir bebas dan menemukan solusi bagi situasi yang dihadapi.

7. Reflective thinking bukan impulsive thinking
Memungkinkan mereka memiliki integritas, clarify big picture, confident decision making.

8. Innovative thinking bukan popular thinking
Menghindari cara berpikir yang awam untuk meraih sesuatu yang lebih baik.

9. Shared thinking bukan solo thinking
Berbagi pemikiran dengan orang lain untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

10. Unselfish thinking bukan selfish thinking
Memungkinkan mereka berkolaborasi dengan pemikian orang lain.

11. Bottom line thinking bukan wishful thinking
Berfokus pada hasil sehingga dapat meraih hasil berdasarkan potensi pemikiran yang dimiliki.

Pikiran adalah awal dari segalanya. Cara berpikir menentukan cara hidup.

Saturday, November 27, 2010

Positive Thinking it enough?

By having a positive mental atmosphere, then this will be very conducive (to support) to run the next positive processes, which include:,

1. Lesson

"Lord Justice" says that there are positive lessons it everywhere as long as we want to explore and absorb it: behind the error, failure, betrayal of others above us, behind a bad accident that befell us, and so on. However, despite the positive lessons that exist everywhere, but the practice proved that the positive lessons that we can not absorb that our minds are clouded by negative thoughts.

Smile Like Samuel said in one of his writings: "Not true if people think that success is created from success. Often resulting from failure to success. Perception, study, advice and role model can not teach as much success as taught by failure. "

2. Decision

One ugly reality that we face in essence not dictate we have to take certain decisions but offers the choice to us. The offer include: a) may choose to reverse the decision, b) may selecting the decision to stop / go back to the original, and c) may selecting the decision to go forward with the deal, looking for creative gap, and others.

If related to the practice of everyday life, there are things that can not be denied that all the people all the time have chosen a particular decision about what to do. From the selected decision was born an action that causes an outcome. Therefore, there is Brian Tracy's suggestion that we should contemplate that which determines our fate is not what happened to us but the decisions we take over what had happened to us. That is, reverse the decision will result in setbacks; decision rendered will result in stagnation and advanced decision will lead to progress.

3. Regularity Step


Well, by creating positive thoughts of bad things that befall us are at least a provision for us to do positive things on an ongoing basis in the sense of not relying on changes in circumstances or are not easily hurt by a blow to the state. As Denis messages WAITLEY, "No you are a barrier to progress but the charge that you bring your mind."

From the message that there might be one thing we need to remember that the negative thoughts that we carry or that we let that become an obstacle sometimes we move or interfere with the smooth move us in treading goals that we espouse. Therefore, if there permisalan paslah illustrating that the negative thoughts that will give us the dirt on his chest. Chest full of dirt that we leave will make our backs weighed down by charges against him and resulted in this step is not as fluent as we want.

What things should be lived?

Above we have seen that using positive thoughts as a way of positive thinking means that we still have a positive process that we need to live. What needs to be lived?

1. Find a special lesson

Whether consciously or not, often term this positive thinking we only practice limited to assume good faith, believing in the wisdom that brightens, or merely have a positive opinion. Of course this is correct and it is good but if we associate with little results and more results, the positive process we need to do is turn our minds to find the specific lessons that actually fits and is relevant to our self-state on today.

The failure of our efforts can be caused by the time it is not perfect yet, mistakes selecting people, less persistent, less skill, external circumstances that are out of control, and others. Because it is impossible to absorb the lessons as a whole at a time, then the most important thing is to absorb the lessons that are relevant only as a material to self-correct.

2. Use in special cases

Many experiences that have tested that have clearly formulated objectives and is clearly fighting for, proved to have a big enough advantage for a positive process. In other words, to be able to use the lessons we have absorbed demands formulated objectives we seek its realization. Without this, it may be a positive lesson that we find it will idle or less many benefits.

In other words, so that we can make our failure as an impetus to achieve progress is not enough just to have a positive mind and positive attitude for this failure, but it takes our efforts to use the lessons that we've got the next in an effort to achieve the desire.

3. Opening Yourself

As we have seen in advance that the positive lessons that lie behind the problem, a bad reality, or behind the events that we experience in practice it is not limited to life, not single, not mono, and therefore often referred to guidance (guidance .) So many that, it is not possible we can space owned and well able to absorb all that is needed is to open on positive lessons revealed by our mistakes, mistakes of others that we see, the findings of science, and advice.

Cukupkah Berpikir Positif?

Dengan memiliki suasana batin positif, maka ini akan menjadi sangat kondusif (mendukung) untuk menjalankan proses positif berikutnya, yang antara lain:,

1. Pelajaran

“Hukum Tuhannya” mengatakan bahwa pelajaran positif itu ada di mana-mana sepanjang kita mau menggali dan menyerapnya: di balik kesalahan, kegagalan, pengkhianatan orang lain atas kita, di balik musibah buruk yang menimpa kita dan seterusnya. Hanya saja, meskipun pelajaran positif itu ada di mana-mana, tetapi prakteknya membuktikan bahwa pelajaran positif itu tidak bisa kita serap kalau batin kita sudah keruh oleh pikiran-pikiran negatif.

Seperti kata Samuel Smile dalam salah satu tulisannya: “Tidak benar jika orang berpikir bahwa kesuksesan diciptakan dari kesuksesan. Seringkali kesuksesan dihasilkan dari kegagalan. Persepsi, study, nasehat dan tauladan tidak bisa mengajarkan kesuksesan sebanyak yang diajarkan oleh kegagalan.”

2. Keputusan

Satu kenyataan buruk yang kita hadapi pada hakekatnya tidak mendikte kita harus mengambil keputusan tertentu tetapi menawarkan pilihan kepada kita. Tawaran itu antara lain adalah: a) boleh memilih keputusan untuk mundur, b) boleh memilih keputusan untuk mandek/kembali ke semula dan c) boleh memilih keputusan untuk terus melangkah dengan menyiasati, mencari celah kreatif, dan lain-lain.

Jika dikaitkan dengan praktek hidup sehari-hari, ada hal yang tidak bisa diingkari bahwa semua orang setiap saat telah memilih keputusan tertentu tentang apa yang akan dilakukannya. Dari keputusan yang dipilih itulah lahir sebuah tindakan yang menjadi penyebab sebuah hasil. Karena itu ada saran Brian Tracy yang patut kita renungkan bahwa yang menentukan nasib kita itu bukan apa yang menimpa kita melainkan keputusan yang kita ambil atas apa yang menimpa kita. Artinya, keputusan mundur akan menghasilkan kemunduran; keputusan mandek akan menghasilkan kemandekan dan keputusan maju akan menghasilkan kemajuan.

3. Keteraturan Langkah


Nah, dengan menciptakan pikiran positif atas hal-hal buruk yang menimpa kita setidak-tidaknya ini menjadi bekal buat kita untuk melakukan hal-hal positif secara terus-menerus dalam arti tidak mengandalkan perubahan keadaan atau tidak mudah disakiti oleh pukulan keadaan. Seperti pesan Denis Waitley, “Bukan dirimu yang menjadi penghambat kemajuanmu tetapi muatan pikiran yang kamu bawa.”

Dari pesan itu mungkin ada satu hal yang perlu kita ingat bahwa pikiran negatif yang kita bawa atau yang kita biarkan itulah yang terkadang menjadi penghambat langkah kita atau mengganggu kelancaran langkah kita dalam menapaki tujuan yang sudah kita tetapkan. Karena itu paslah jika ada permisalan yang menggambarkan bahwa pikiran negatif itu akan memberikan kotoran di dada kita. Dada yang penuh dengan kotoran yang kita biarkan akan membuat punggung kita terbebani oleh muatan-muatan yang memberatkan lalu mengakibatkan langkah ini tidak selancar seperti yang kita inginkan.

Hal-hal Apakah yang Perlu Dijalani?

Di atas sudah kita singgung bahwa menggunakan pikiran positif sebagai jalan berarti setelah kita berpikir positif masih ada proses positif yang perlu kita jalani. Apa yang perlu untuk dijalani?

1. Temukan pelajaran khusus

Entah sadar atau tidak, kerapkali istilah berpikir positif ini hanya kita praktekkan sebatas berprasangka baik, meyakini adanya hikmah yang mencerahkan, atau sebatas punya opini positif. Tentu ini sudah benar dan sudah baik tetapi kalau kita kaitkan dengan hasil sedikit dan hasil yang lebih banyak, maka proses positif yang perlu kita lakukan adalah mengaktifkan pikiran kita untuk menemukan pelajaran-pelajaran spesifik yang benar-benar cocok dan relevan dengan keadaan-diri kita pada hari ini.

Kegagalan usaha kita bisa disebabkan oleh waktu yang belum tepat, kesalahan memilih orang, kurang gigih, kurang skill, keadaan eksternal yang di luar kontrol, dan lain-lain. Karena tidak mungkin kita menyerap hikmah secara keseluruhan dalam satu waktu, maka yang paling penting adalah menyerap hikmah yang relevan saja sebagai bahan mengoreksi diri.

2. Gunakan dalam hal khusus

Banyak pengalaman yang sudah menguji bahwa memiliki rumusan tujuan yang jelas dan jelas-jelas diperjuangkan, ternyata memiliki manfaat cukup besar bagi proses positif. Dengan kata lain, untuk bisa menggunakan pelajaran yang sudah kita serap menuntut adanya rumusan tujuan yang kita upayakan realisasinya. Tanpa ini, mungkin saja pelajaran positif yang kita temukan itu akan nganggur alias kurang banyak manfaatnya.

Dengan kata lain, agar kita bisa menjadikan kegagalan kita sebagai dorongan untuk meraih kemajuan tidak cukup hanya dengan memiliki pikiran positif dan sikap positif atas kegagalan itu, melainkan dibutuhkan upaya kita untuk menggunakan pelajaran yang sudah kita dapatkan dalam usaha meraih keinginan berikutnya.

3. Membuka Diri

Seperti yang sudah kita singgung di muka bahwa pelajaran positif yang ada di balik satu masalah, satu kenyataan buruk, atau di balik peristiwa yang kita alami dalam praktek hidup itu sangatlah tidak terbatas, tidak tunggal, tidak mono, dan karena itu sering disebut petunjuk (hidayah). Saking banyaknya itu, maka tidak mungkin ruangan milik kita bisa sanggup menyerap seluruhnya dan sekaligus sehingga yang dibutuhkan adalah membuka diri atas berbagai pelajaran positif yang diwahyukan oleh kesalahan kita, kesalahan orang lain yang kita lihat, temuan ilmu pengetahuan, dan nasehat.

Tuesday, November 16, 2010

8 Tips Menjadi Orang Kreatif


Saya yakin sebagian besar diantara Anda pernah menonton film Tom and Jerry, benar bukan? Iya, kisah perseteruan kucing dan tikus itu telah lama dipuar di televisi, bahkan vcd-nya tersebar di hampir seluruh toko penjual film di pinggir jalan.

Memang film tersebut tidak terlalu bagus untuk dilihat, apalagi oleh anak-anak. Meskipun kategori film hiburan untuk anak, namun dalam film ini terlalu banyak adegan kekerasan yang disajikan sehingga tidak baik untuk perkembangan mental anak.


Namun bukan itu yang ingin saya bahas disini. Satu hal yang menarik dalam film ini adalah selalu saja ada cara bagi si Tom untuk berusaha mengalahkan si kecil Jerry, dan sebaliknya, selalu ada cara si Jerry dalam memperdaya Tom, si kucing yang selalu jadi pecundang itu. Bahkan seringkali dengan cara-cara di luar yang kita pikirkan. Mereka selalu kreatif dalam mencari cara.

Ya selalu menemukan cara di luar hal yang biasa. Itulah yang ingin saya bahas. Thinking out of the box, begitu orang mengisitilahkan.


Dalam situasi krisis seperti ini, budget yang terbatas, target yang tidak pernah turun, sebagai karyawan kita dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif. Kreatif dalam melaksanakan program kerja dan inovatif dalam mencari cara-cara baru untuk mensiasati situasi kritis seperti ini.

Menurut para ahli, seseorang yang kreatif bukalah selalu menemukan hal baru, namun ia selalu melihat segala sesuatu dengan cara berbeda dan baru, dan biasanya tidak dilihat oleh orang lain. Orang yang kreatif, pada umumnya mengetahui permasalahan dengan sangat baik dan disiplin, biasanya dapat melakukan sesuatu yang berbeda dari cara-cara yang biasa. Proses kreativitas melibatkan adanya ide-ide baru, bermanfaat, meskipun kadang tetapi dapat diimplementasikan.

Pertanyaannya, bagaimana agar kita menjadi orang yang kreatif?

Berikut beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk menjadi kreatif:

1. Buka mata, buka telinga

Kemampuan kita untuk selalu terbuka terhadap berbagai hal akan memberikan energi yang luar biasa untuk mampu mencintai segala sesuatu, termasuk mencintai profesi kita.

Dan mencintai itu harus kita lakukan dengan penuh ketulusan. Kalau kita dengan tulus melakukan pekerjaan, maka tidak akan ada beban sedikitpun yang mengganjal terhadap apapun yang ”ingin” kita lakukan.

“I never, ever thought of myself as a businessman. I was interested in creating things I would be proud of ” (Richard Branson)
2. Percaya diri

Kemampuan untuk mengenali apa yang menjadi keistimewaan kita merupakan hal terpenting dalam hidup kita. Karena itu ada istilah “mempercayai kemampuan kreatifitas anda adalah separo dari sukses itu sendiri”

Untuk bisa kreatif, kita harus bisa ber”mimpi” besar untuk menggapai sesuatu. Hidup kita tidak akan bergairah kalau kita tidak memiliki impian dan target. Orang yang percaya diri akan selalu menyusun mimpi dalam dalams ebuah cita-cita hidup.

3. Tanamkan semangat belajar

Look through the eyes of a child. The art of “listening” has been mostly forgotten. God creates human with two ears and only one mouth for a good reason.

Belajar bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dan melalui cara apa saja. Anda bisa bertanya pada yang ahli, membaca buku, jalan-jalan, menonton film, mengikuti pelatihan dan kursus, seminar, browsing internet dan banyak lagi.

Dalam kaidah Islam sering mengenal ungkapan-ungkapan seperti: ”belajarlah sampai ke negeri cina”, ”belajar dari sejak buaian ibu sampai ke liang lahat”, ”untuk meraih kebahagaiaan di dunia capailah dengan ilmu, untuk meraih kebahagiaan di akhirat capailah dengan ilmu dan untuk meraih kedua-duanya capailah dengan ilmu”.

Itu adalah ungkapan untuk memotivasi kita dalam membangun semangat belajar. Dan orang yang selalu belajar akan memiliki pola pikir kreatif dalam kesehariannya.

4. Berhubungan dengan orang-orang kreatif

Jika ingin mengetahui karakter seseorang, lihatlah dengan siapa dia berteman. Itu mungkin ungkaan yang tepat untuk menggambarkan betapa pentingnya arti seorang teman.

“Sahabat terbaik adalah dia yang mampu mengeluarkan apa yang terbaik dari diri Anda” (Henry Ford)

Apabila Anda selalu bersama orang yang suka menyanyi, lama-kelamaan Anda juga akan senang menyanyi. Jika Anda sering berkumpul dengan para penulis atau sastrawan, paling tidak Anda akan menyukai dunia sastra. Maka jika Anda selalu berhubungan dengan orang-orang kreatif. Anda akan menjadi orang kreatif.

5. Jadilah komunikator yang baik

Saat ini dunia begitu sempit, apa yang terjadi di belahan bumi lain akan bisa kita ketahui sekarang juga dan dimana kita berada. Jadi, untuk menumbuhkan kreatifitas kita harus bisa memanfaatkan sarana komunikasi yang ada.

Di zaman digital seperti ini, berbagai sarana komunikasi dapat Anda manfaatkan untuk membangun relasi dengan orang lain. Blog, friendster, flickr, facebook, website adalah sarana-saran komunikasi yang bisa mendukung Anda mendapatkan wawasan dan teman baru.

6. Ciptakan suasana yang menyenangkan

Bermain mendorong anda dalam suatu pikiran yang berisi banyak elemen
yang anda butuhkan untuk kreatif, misalnya keingintahuan, imajinasi, experimentasi, fantasi, spekulasi, atau apa saja

”Saya tidak pernah memiliki hari kerja dalam hidup saya. Semuanya merupakan kegembiraan” (Thomas A. Edison)

7. Ciptakan lingkungan yang kondusif
Berdasarkan hasil penelitian, untuk menciptakan kreativitas dibutuhkan lingkungan kerja kondusif yang menyenangkan (fun), penuh rasa humor, spontan, dan memberi ruang bagi individu untuk melakukan berbagai permainan atau percobaan. Membentuk lingkungan yang kondusif seperti itu sangatlah tidak mudah bagi sebuah organisasi. Mendorong kreativitas dalam dunia kerja menuntut iklim yang permissif terhadap existensi individualitas dan penerimaan terhadap rasa humor, disamping tetap memegang teguh rasa hormat, kepercayaan dan komitment sebagai norma yang berlaku.
Salah satu cara terbaik untuk mendorong kreativitas dan inovasi dalam sebuah perusahaan adalah dengan cara mengukur sejauhmana hal tersebut telah dilakukan. Perusahaan dianjurkan untuk memasukkan unsur kreativitas dan inovasi ke dalam proses evaluasi kerja. Sebagai contoh: masukan unsur penilaian tentang berapa banyak ide dari seseorang atau kelompok (teamwork) yang dapat diimplementasikan oleh perusahaan. Jika hal ini terkomunikasi dengan baik maka setiap individu akan berusaha untuk memberikan ide secara konstruktif.
8. Keluar dari rutinitas
Penempatan pegawai dengan konsep the right people with the right job juga merupakan cara yang tepat untuk menstimulasi munculnya kreativitas dan inovasi. Hal ini karena penempatan pegawai pada posisi yang tepat akan mengurangi supervisi sehingga memberikan otonomi bagi individu dalam menyelesaikan masalah-masalah pekerjaannya.
Root-Bernstein, salah seorang penulis buku Sparks of Genius, mengusulkan pentingnya pegawai untuk keluar dari cara kerja yang rutin sehingga dapat melihat masalah pekerjaan dengan cara yang baru. Salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut menurut Bernstein perlu dilakukan brainstorming secara regular. Dengan melakukan brainstorming pegawai diharapkan dapat memberikan ide dan solusi yang baru.

Monday, November 15, 2010

Performance Target


If last month's edition of Human Capital, have discussed the main function of a leader is to motivate employees, in this edition of the Leadership Series, will be translated leader task is no less important: making performance targets. Lots of usability rather than performance targets.

First, it can be used by leaders to make sure the organization / employees achieve objectives / goals that have been agreed. Leaders can also use the target compared with the target company to other companies, including rival firms (benchmarking). And one of the important of the functions of performance targets is to avoid misunderstanding between the leaders and their employees, especially at the end of the year, when they mengkilas back (review) the work of employees. If no target or a clear work plan, and the result is less satisfactory final work, leaders and employees can 'recriminations' or seek 'scapegoat' for any errors.

There is no 'step-by-step' process that is always done the same leaders in making performance targets for employees. Every employee and works plans would vary depending on the department, position, job function, tenure, etc.. However, there are principles that can be used leaders to create an effective performance targets, both to target individual employees (eg in making the purpose / goal of work at the time of performance planning / review), or to target the department / organization (eg when making business planning). The principles in creating effective performance targets are: SMART (Specific, Measurable, Agreed, Realistic, Time-Bound).


Specific - Target of a plan must be clear and spesifi k. So that the employee or organization is not confused in doing his job. Specific not mean to be complicated, sometimes even on the contrary, the purpose of which spefi sik usually very clear and straightforward. Jack Welch, former GE's legendary leader, make the performance targets for each business unit with specific and very short: Each business unit of GE should be number one or (at worst) is the industry's number two respectively. If not, GE will close the unit, or sell to another company. With the performance targets are clear and specific, do not be surprised if GE became leader almost in all industries that the company is located: GE Engine, Finance / Capital, Power, including the NBC television.

Measurable - There is no point in making performance targets, but can not be measured later. Knowing how to measure the performance of employees is not only important at the end of the year (when the performance review), but more importantly during the process is still running. Performance targets should be divided and can be measured each quarter. So that leaders can react appropriately every three months, to ensure that the performance of the organization / employees in the 'path' is true.

Agreed - Target course work must be understood, discussed and agreed by both parties (the leader and employees). As mentioned previously, there will be no finger pointing if all targets have been approved previously. Although performance targets already agreed by all parties, does not mean the target can not be changed. Leaders must be flexible and wise to change the target (to be more easy / difficult), in accordance with the conditions of employees, a state enterprise and market situation. For instance, during the economic crisis in Indonesia ago, started in 1998, many CEOs have to lower the company's business target, although this target has been approved by the Board of Directors.

Realistic - Performance targets must be realistic as possible. If the leader does not mean only 'dream' only, and if the target does not make sense, even frustrating all employees and organizations. Realistic targets are not necessarily difficult or interesting. To improve employee performance, leaders must create a work plan that is realistic, but also not easy to achieve (challenging). Even the effective leader will make the performance targets that the term BHAG [read: bihek, abbreviation: Big hairy audacious goals]: a goal / target that is very 'big ... hairy ... and challenging'. By BHAG, the leader will motivate and influence employees that they are like a 'knight' who have 'beat' of a goal / target that is imagined as monsters / creatures that big ... hairy ... and challenging.

Time-Bound - Finally, leaders must create a 'deadline' when performance targets to be achieved. Without clear information on time, leaders will be very difficult to manage performance organization / employees. This section (Time-Bound), the importance of priority skills / time management a must-have leaders. Each leader must act as a 'trainer / coach' in a game, which should lead players (employees), to defeat your opponent the match (competitor), within a specified time (deadline).

With these SMART principles, an employee will be able to run an organization with clear performance targets because they know what must be accomplished (specifically), knows how to measure performance (measurable), has been approved by all parties (Agreed), the target rather than being -no (realistic), and knowing when the target should be achieved (time-bound). Therefore, effective leaders will always make the performance targets are SMART.

Sunday, October 24, 2010

Mistakes in Leadership

Mistakes in Leadership

A leader needs to refine skills and leadership to avoid the mistakes that are not necessary. How do I?

Management experts agree that leading companies do not just manage the numbers.
Formulate organizational strategy, profit concentration, and people management became
an important factor in determining success or failure of a leader.

There are five main elements that determine the success of a leadership organization, the product quality or has its own peculiarities, the right momentum, adequate capital, Dya quality human resources, as well as effective management. The five elements, according to Steven Brown in the book 13 Fatal Errors Managers Mistakes and How You Can Avoid Them, is absolute and interrelated.

That is, without effective management, a leader will not be able to make good decisions about product specifications and the right moment to introduce to the market. Companies whose management shambles can not get sufficient capital, let alone defend it. More than that, people could only be trained and developed to better management memayunginya dlam good condition too.

Any forward-looking leaders should understand that an invaluable resource in any company is its human potential. As a leader, he is responsible for developing the talent that is very broad. So the importance of human resource element, a top executive at a large company in America once said: "Take all my possessions, the home is not his organization. So in five years I will be able to get everything back. "

The problem is, not all leaders are able to manage the company properly. According to Steven Brown's record that has for years served as a consultant, at least there were 8 fatal error made by a leader. Thirteenth Tesebut error is:

Failed to Develop People

One main goal is business continuity management itself, although there are changes in time and those who manage them. That means, if one day you wake up company that eventually became collapsed after you leave, then you deserve to feel guilty and failed leadership in developing relay.
It often happens, for various reasons, do not believe a person's ability, such as a leader feel the need to do everything yourself. There is no delegation of authority and power. As a result, other than occupied by the affairs that are not necessary, the leaders had been aware of incorrect or missing an opportunity to create a cadre of new leaders.
If you are in doubt about the need to build people as hard as possible, the following illustration can be a picture. Someone starting a business, and businesses that continue to survive as long as he was still working. Then, the company slowly disappeared after replacing his successors for more than half the working period of a generation.

Controlling the Result, Not Mengabdalikan mode

How to think someone would vary. This is also the result sebsb why some people can be more productive than others. Most leaders are often hit flat on the performance of employees. Moreover, for jobs that are very easy to see the results, such as field sales.
In fact every employee, as was already alluded to a way of looking and feeling different to a problem. Therefore, to avoid the wrong perception that, a leader in the development of a framework mestimelihat the whole series, namely through the thoughts, feelings or intellect, activities and eventually become a habit, then give the results. If the circuit is used, then the leader will be with mudh make drastic changes in building employee productivity.

Joining the Wrong Team

The main points at issue is how a leader develop the attitudes, especially about loyalty. A leader is often used as a fighter for people who are against the virtue, corporate goals and objectives.
If that happens, you should refuse even if the invite you are a leader or a set of your peers and keeping employees.

Uniforms in Managing People

Leaders who manage his subordinates in the same way or a technique, it often suffered disappointment. A good leader should be sensitive to personality differences and their respective staff.
Therefore, emimpin must recognize and exploit these differences as a strength.

Forget The Importance of Profit

The main purpose of an organization is to maintain the continuity of the organization. To that end, the company must necessarily achieve continuity of the profits to finance. Too often in the company of each division was more important than the other divisions. This can make a leader not forget the importance of focus and ultimately profit.

Glued At issue, Lost Objectives

One of the reasons why a leader is not effective is because he is fixated on simple problems, such small errors committed his subordinates or others.
Instead of wasting energy on finding fault with others, certainly better if one leader to another approach. For example, by finding out, what affects one's performance.

Be As a Neighbor, Not Leader

After office hours, many corporate leaders who want to behave as an ordinary person like the other fellow employees. Then next morning he would behave as a leader again. Many employees who could not accept such an attitude. A leader must choose: be a leader or a fellow employee. There is no middle ground in such situations.
The reason is simple, if a leader's actions against careless employee, then the fact he not only does not respect its employees. More than that he had also been taught to employees for not respecting his superiors. A leader should not be trapped in his role as friend, psychiatrist or priest. The task leader is how to manage a company's life.

Failed Setting Standards

Many leaders who did not like the concept of setting standards. Mahkan maybe they want to avoid talking about it, because they consider the standard as a way to punish those who fail memprodksi or that do not compromise.
People who think so do not really understand one of the key companies that are well managed. The Company does not have to force people to submit to a long list of rules, but he must have a goal to build personal and corporate pride.

Kesalahan dalam Kepemimpinan

Seorang pemimpin perlu menyempurnakan ketrampilan dan kepemimpinannya agar terhindar dari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu. Bagaimana caranya?

Para ahli manajemen sepakat bahwa memimpin perusahaan tidak sekedar mengelola angka-angka. Merumuskan strategi organisasi, konsentrasi meraih laba, dan people manajemen justru menjadi factor penting dalam menentukan
sukses tidaknya seorang pemimpin.
Ada lima unsur utama yang menentukan keberhasilan sebuah kepemimpinan organisasi, yakni produk berkualitas atau memiliki kekhasan tersendiri, momentum yang tepat, modal yang memadai, sumber dya manusia yang berkualitas, serta manajemen yang efektif. Kelima unsure tersebut, menurut Steven Brown dalam buku 13 Fatal Errors Managers Mistakes and How You Can Avoid Them, bersifat mutlak dan saling terkait.

Artinya, tanpa manajemen yang efektif, seorang pemimpin tidak akan bisa mengambil keputusan yang tepat mengenai spesifikasi produk dan momentum yang tepat untuk memperkenalkannya ke pasar. Perusahaan yang manajemennya amburadul juga tidak bisa mendapatkan modal yang memadai, apalagi mempertahankannya. Lebih dari itu, people hanya bisa dilatih dan dikembangkan dengan lebih baik jika manajemen yang memayunginya dlam kondisi baik pula.

Setiap pemimpin yang berpandangan ke depan semestinya memahami bahwa sumber daya yang tak ternilai dalam setiap perusahaan adalah potensi manusianya. Sebagai pemimpin, ia bertanggungjawab untuk mengembangkan bakat yang sangat luas tersebut. Sebegitu pentingnya unsure sumber daya manusia, seorang eksekutif puncak di sebuah perusahaan besar di Amerika pernah berujar: “Ambilah semua harta saya, asal bukan organisasinya. Maka dalam lima tahun kedepan saya akan bisa memperoleh semuanya kembali."


Masalahnya, tidak semua pemimpin mampu mengelola perusahaannya dengan benar. Menurut catatan Steven Brown yang telah bertahun-tahun bertugas sebagai konsultan, setidaknya ada 8 kesalahan fatal yang dilakukan oleh seorang pemimpin. Ketiga belas kesalahan tesebut adalah:

Gagal Mengembangkan Orang

Salah satu tujuan utama manajemen adalah kelangsungan bisnis itu sendiri, meski ada perubahan waktu danorang-orang yang mengelolanya. Itu artinya, jika suatu saat perusahaan yang anda bangun akhirnya menjadi runtuh setelah anda tinggalkan, maka anda layak merasa bersalah dan gagal dalam mengembangkan estafet kepemimpinan.
Sering terjadi, karena berbagai alasan, tidak percaya kemampuan seseorang, misalnya seorang pemimpin merasa perlu melakukan segala sesuatunya sendiri. Tidak ada pelimpahan wewenang dan kekuasaan. Akibatnya, selain disibukkan oleh urusan yang sebenarnya tidak perlu, pemimpin tadi secra tidak sadar telah melewatkan kesempatan untuk menciptakan kader-kader pemimpin baru.
Jika anda ragu mengenai perlunya membangun people sekuat mungkin, ilustrasi berikut bisa menjadi gambaran. Seseorang memulai sebuah usaha, dan usaha itu terus bertahan selama ia masih bekerja. Lalu, perusahaan itu perlahan-lahan lenyap setelah para penggantinya menggantikan selama kurang lebih setengah jangka waktu kerja suatu generasi.

Mengendalikan Hasil, Bukan Mengabdalikan Cara

Cara berpikir seseorang tentu berbeda-beda. Ini pula yang menjadi sebsb mengapa beberapa orang bisa lebih produktif ketimbang yang lain. Kebanyakan pemimpin sering memukul rata mengenai unjuk kerja karyawannya. Terlebih lagi untuk pekerjaan-pekerjaan yang sangat mudah terlihat hasilnya, seperti bidang penjualan.
Padahal setiap karyawan, seperti tadi sudah disinggung memiliki cara pandang dan perasaan yang berbeda-beda untuk suatu masalah. Karena itu untuk menghindari persepsi yang keliru itu, seorang pemimpin mestimelihat dlam sebuah kerangka rangkaian yang utuh, yakni melalui pikiran, perasaan atau akal budi, kegiatan dan lama-lama menjadi kebiasaan, lalu memberikan hasil. Jika rangkaian tersebut dipergunakan, maka pemimpin akan dengan mudh melakukan perubahan drastis dalam membangun produktifitas karyawan.

Bergabung dengan Kelompok yang Keliru

Poin utama pada masalah ini adalah bagaimana seorang pemimpin mengembangkan sikap, terutama tentang kesetiaan. Seorang pemimpin sering dijadikan sebagai pejuang bagi orang-orang yang melawan kebajikan, tujuan dan sasaran perusahaan.
Jika hal itu terjadi, anda harus menolak sekalipun yang mengajak anda adalah seorang pemimpin sejawat anda atau sekumpulan bebrapa karyawan.

Seragam dalam Mengelola Orang

Pemimpin yang mengelola anak buahnya dengan cara yang sama atau satu teknik saja, seringkali mengalami kekecewaan. Pemimpin yang baik mestinya peka terhadap perbedaan dan kepribadian masing-masing staf.
Oleh karena itu, emimpin harus menyadari dan memanfaatkan perbedaan tersebut sebagai sebuah kekuatan.

Melupakan Pentingnya Laba

Tujuan utama sebuah organisasi adalah menjaga kelangsungan organisasi tersebut. Untuk tujuan tersebut, perusahaan mestilah meraih laba untuk membiayai kelangsungan tersebut. Seringkali terjadi, di perusahaan masing-masing divisi merasa lebih penting ketimbang divisi yang lain. Hal ini bisa membuat seorang pemimpin tidak focus dan akhirnya melupakan pentingnya laba.

Terpaku Pada Persoalan, Lupa Tujuan

Salah satu alasan mengapa seorang pemimpin tidak efektif adalah karena ia terpaku pada masalah-masalah sederhana, misalnya kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan anak buahnya atau orang lain.
Daripada membuang-buang energi untuk mencari-cari kesalahan orang lain, tentu lebih baik jika seorang pemimpin melakukan pendekatan lain. Misalnya dengan mencari tahu, apa yang mempengaruhi prestasi seseorang.

Bersikap Sebagai Sesama, Bukan Pemimpin

Usai jam kantor, banyak pemimpin perusahaan yang ingin bersikap sebagai orang biasa seperti sesame karyawan yang lain. Kemudian esok paginya ia akan bersikap sebagai pemimpin lagi. Banyak karyawan yang tidak bisa menerima sikap seperti itu. Seorang pemimpin memang harus memilih: menjadi pemimpin atau menjadi sesame karyawan. Tidak ada jalan tengah dalam situasi seperti itu.
Alasannya sederhana, kalau tindakan seorang pemimpin terhadap karyawan sembrono, maka sebenarnya ia tidak hanya tidak menghormati karyawannya. Lebih dari itu ia juga telah mengajarkan kepada karyawan untuk tidak menghormati atasannya. Seorang pemimpin tidak boleh terjebak pada perannya sebagai sahabat, psikiater atau pastor. Tugas pemimpin adalah bagaimana mengelola kehidupan sebuah perusahaan.

Gagal Menentukan Standar

Banyak pemimpin yang tidak menyukai konsep menentukan standar. Mahkan mungkin mereka ingin menghindari pembicaraan tentang hal itu, karena mereka menilai standar sebagai cara untuk menghukum mereka yang gagal memprodksi atau yang tidak kompromistis.
Orang yang beranggapan demikian sebenarnya tidak memahami salah satu kunci perusahaan yang dikelola dengan baik. Perusahaan memang tidak usah memaksa orang untuk tunduk kepada sederetan panjang peraturan, tetapi ia harus mempunyai sasaran untuk membangun kebanggan pribadi dan perusahaan.


Step Step Building a Positive Attitude

Benefits of positive attitude very much. A positive attitude can increase productivity, promote teamwork, problem solving, improve quality, foster a favorable atmosphere, create loyalty, increase profits, and so on. The problem is, not everyone is able to build positive attitudes in his life. To build and maintain a positive attitude, according to Khera
Shif author of You Can Win, then consciously have to practice some of the following:

1. Change the focus, look for something positive

We must focus on the positive things in our lives. Start looking for what is right from a person or situation, not the other way looking for things that are wrong. In human umtumnya compelled to find fault with others and forget to see the positive picture. If someone tries to find friendship, joy, and positive things, then he will get it. Conversely, if the person was more looking for things that are negative, he also will get it. But a positive attitude here does not mean ignoring the error.

2. Grow habit to do it right now

We all have dreams in life, at least at certain times. Chimera is likely to cause negative attitudes. Daydream habit to make yourself become tired rather than attempt to make it happen. A task that was completed to produce satisfaction and foster a spirit, a task that is not fully materialized energy drain that is leaking like a tank.

3. Develop an attitude of gratitude

Always pay attention to that obtained mercy, not a tragedy or difficulty. We always focus complained about things that are not obtained, and forget about what we have. So many things we should be thankful for. At the moment we are grateful for our blessings, tidklah means we feel complacent. Gratitude makes everything more easy to live.

4. Take continuing education program

We must understand the true meaning of education. Intellectual education affects our thinking skills, while education on the basis of the values affect our hearts. In fact, education is not touched our hearts very dangerous. Whenever we want to build character in the office, home or community, then we must have ethics and morals at a minimum level. Education aimed at building or character traits we-like honesty, perseverance, vibrant, strength, and responsible - is essential. We do not need more academic education bnyak; the more necessary is the education of values.

5. Build self-respect in a positive way

Respect for yourself is the way we view ourselves. If we feel a lot of good things we have, our performance will increase, and our relationship developed, both in kator and at home. The world will look more beautiful. Why? Because there is a direct correlation between feelings and behaviors. So how can we respect ourselves? One of the fastest ways is to do things separately tidk others who can pay you with money or good reason. Contribute to the person who is unable, for example. There are two types of people in this world; receiver (taker) and donor (giver). The recipients of the "eat" the good and the giver "sleep" with the bad. The award-givers have self terhadapp high, a positive attitude, and serve the community. But in life, people must be able to act to receive and give. Personality dri yng healthy people who respect ourselves is, he not only felt the need to accept, malainkan also provided.

6. Away from the influence of negative things

To be able to be positive, automatically you have to distance themselves from negative influences. There are some negative things that should be shunned. First, people are negative. Social environment will determine the attitude of a person's life. If you get along with people who excel, you are going to be able to be accomplished. If you usually associate with thinkers, you will become one of them. If you hang out with people who love to give, you also would like to give. Conversely, if you enjoy socializing with people who like to convey kompalin, you would be so.
Second, drugs and alcohol. In addition to self-destructive and mind, this habit also spent money. Third pornography. Pornography is like a process of dehumanization of women and children. The consequences of pornography are numerous, such as dehumanization of women, sacrificing children, destroying marriages, encourage sexual crimes, ethical and moral ruin, and so forth. Every 46 seconds in America happened the rape of a woman (National Victim Center / Crime Victims Research and Treatment Center, 1992). As many as 86% of rapists admit to regular porn, and 57% admitted imitating pornographic movies when sexual crimes (Dari. William Marshal, 1988). Fourth, negative films and tv programs. Fifth, rock music and many other negative things.

7. Learn to love something to be done

Many things we must do, regardless of whether we like or dislike about it. For example, a mother who must care for her child. But if we learn to like the tasks required, something that is impossible can become possible.

8. Start your day with something positive.

Try to read or hear something positive first thing in the morning. After a night of sleep soundly, we are relaxed so that our subconscious mind receptive. Positive thinking will determine the success of the day, and helps our mind to make every day a positive day.

Langkah Langkah Membangun Sikap Positif

Manfaat sikap positif sangat banyak. Sikap positif bisa meningkatkan produktivitas, mendorong kerjasama tim, memecahkan masalah, meningkatkan kualitas, menumbuhkan atmosfer yang menguntungkan, menciptakan loyalitas, meningkatkan laba, dan seterusnya. Masalahnya, tidak semua orang mampu membangun sikap yang positif itu di dalam hidupnya. Untuk membangun dan memelihara sikap positif, menurut Shif Khera penulis buku You Can
Win, maka secara sadar harus mempraktikkan beberapa hal langkah berikut:

1. Ubah fokus, carilah hal yang positif

Kita harus fokus kepada hal-hal positif di dalam hidup kita. Mulailah mencari apa yang benar dari seseorang atau situasi; bukan sebaliknya mencari hal-hal yang salah. Pada umtumnya manusia terdorong untuk mencari-cari kesalahan orang lain dan lupa untuk melihat gambar yang positif. Jika seseorang berusaha mencari persahabatan, kegembiraan, dan hal-hal positif, maka ia akan mendapatkannya. Sebaliknya, jika orang itu lebih mencari hal-hal yang negative, ia juga akan mendapatkannya. Tetapi bersikap positif di sini bukan berarti mengabaikan kesalahan.

2. Tumbuhkan kebiasaan untuk mengerjakannya sekarang juga

Kita semua pernah memiliki angan-angan dalam hidup, minimal pada waktu tertentu. Angan-angan cenderung menyebabkan sikap negative. Kebiasaan berangan-angan membuat diri menjadi lelah ketimbang upaya untuk mewujudkannya. Sebuah tugas yang berhasil dirampungkan menghasilkan kepuasan dan menumbuhkan semangat; sebuah tugas yang tidak tuntas terwujud menguras energi layaknya sebuah tangki yang bocor.


3. Kembangkan sikap bersyukur

Selalulah memperhatikan rahmat yang diperoleh, bukan musibah atau kesulitan. Kita selalu fokus mengkomplain tentang hal-hal yang tidak diperoleh, dan lupa terhadap apa yang kita punyai. Begitu banyak hal yang seyogyanya kita syukuri. Pada saat kita mensyukuri nikmat, tidklah berarti kita merasa berpuas diri. Rasa syukur membuat segalanya lebih enteng untuk dijalani.

4. Ambilah program pendidikan yang berkelanjutan

Kita harus memahami makna sebenarnya dari pendidikan. Pendidikan intelektual mempengaruhi kemampuan berpikir kita, sedangkan pendidikan berdsarkan nilai-nilai berpengaruh terhadap hati kita. Kenyataannya, pendidikan yang tidak menyentuh hati kita sangat berbahaya. Bilamana kita ingin membangun karakter di dalam kantor, rumah atau masyarakat, maka kita harus memiliki etika dan moral pada level minimum. Pendidikan yang bertujuan membangun sifat-sifat atau karakter kita�- seperti kejujuran, ketekunan, bersemangat, keteguhan, dan bertanggung jawab - sangatlah esensial. Kita tidak butuh lebih bnyak pendidikan akademis; yang lebih dibutuhkan adalah pendidikan nilai-nilai.

5. Bangun sikap menghargai diri sendiri secara positif

Penghargaan terhadap diri sendiri adalah cara kita memandang diri kita. Jika kita merasa banyak hal yang bagus kita miliki, kinerja kita akan meningkat, dan hubungan kita berkembang, baik di kator maupun di rumah. Dunia akan terlihat lebih indah. Kenapa? Karena ada korelasi langsung antara perasaan dan perilaku. Lantas bagaimana caranya agar kita menghargai diri sendiri? Salah satu cara tercepat adalah mengerjakan sesuatu utnuk orang lain yang tidk bisa membayar anda dengan uang atau budi baik. Berkontribusi terhadap orang yang tidak mampu, misalnya. Ada dua jenis manusia di dunia ini; penerima (taker) dan pemberi (giver). Para penerima "memakan" dengan enak dan para pemberi "tidur" dengan enak. Para pemberi memiliki penghargaan terhadapp diri sendiri yang tinggi, sebuah sikap yang positif, dan melayani masyarakat. Tetapi dalam hidup, manusia harus bisa bertindak menerima dan memberi. Kepribadian yng sehat dri orang yang menghargai diri sendiri adalah, dia tidak hanya merasa perlu untuk menerima, malainkan juga memberi.

6. Menjauh dari pengaruh hal negative

Untuk bisa bersikap positif, secara otomatis anda harus menjauhkan diri dari pengaruh negative. Ada beberapa hal negative yang harus dijauhi. Pertama, orang-orang negative. Lingkungan pergaulan sangat menentukan sikap hidup seseorang. Jika anda bergaul dengan orang-orang berprestasi, andapun akan mampu menjadi orang berprestasi. Bila anda biasa bergaul dengan pemikir, anda akan menjadi salah satunya. Kalau anda bergaul dengan orang yang suka memberi, anda pun akan suka memberi. Sebaliknya, jika anda suka bergaul dengan orang-orang yang suka menyampaikan kompalin, anda pun akan begitu.
Kedua, narkoba dan alkohol. Selain merusak diri dan pikiran, kebiasaan ini juga menghabiskan uang. Ketiga pornografi. Pornografi tak ubahnya proses dehumanisasi terhadap wanita dan anak-anak. Konsekuensi dari pornografi sangat banyak, seperti dehumanisasi wanita, mengorbankan anak-anak, menghancurkan pernikahan, mendorong kejahatan seksual, merusak etika dan moral, dan sebagainya. Setiap 46 detik di Amerika terjadi pemerkosaan terhadap seorang wanita (National Victim Center/Crime Victims Research and Treatment Center, 1992). Sebanyak 86% pemerkosa mengakui secara regular melakukan pornografi, dan 57% mengakui meniru film porno saat melakukan kejahatan seksual (Dari. William Marshal, 1988). Keempat, film dan program tv negative. Kelima, musik rock dan berbagai hal negative lainnya.

7. Belajarlah mencintai sesuatu yang harus dikerjakan

Banyak hal yang harus kita kerjakan, terlepas apakah kita suka atau tidak suka terhadap hal itu. Misalnya seorang ibu yang harus merawat anaknya. Tetapi jika kita belajar menyukai tugas-tugas wajib tersebut, sesuatu yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin.

8. Mulai hari anda dengan hal yang positif.

Usahakan membaca atau mendengar sesuatu yang positif pertama kali di pagi hari. Setelah semalaman tidur pulas, diri kita menjadi rileks sehingga otak bawah sadar kita mudah menerima. Pikiran positif akan menentukan keberhasilan hari itu, dan membantu pikiran kita untuk menjadikan setiap hari sebagai hari yang positif.